celengan ayam

Angan-angan Dari Celengan ayam

Cerita Pendek (Cerpen)
Oleh : No Name

Dulu aku masih kelas V sekolah dasar.Aku mempunyai Celengan yang berbentuk ayam.Mungkin aku punya keinginan untuk membeli playstation dan semenjak itulah aku rajin menabung utuk me mewujudkan keinginanku.Setelah itu Celengan ayam itu aku timang-timang.

Terasa berat di tanganku.Mungkin sudah ada beratus-ratus uang logam dan lembaran ribuan di sana. Perkiraanku mungkin sudah cukup untuk membeli playstation impianku. Tapi …kembali terngiang ucapan ibu tadi siang.

“Den, kumaha mun cengcelengan hayamna ulah di peserkeun saker meser PS?” ucap ibu lirih
“Terus di pake saker naon, Mi?”
“Emi gaduh rancana kumaha mun artosna di di peserkeun wae kana pipiaraan wae. Jadi mun aya kabutuhan teh bisa di jual kitu,sababna kunaon apal mereun bapa teh damel, Den?”
“Iya ,,Mi.”

Ah seandainya saja ayah masih kerja.Mungkin ibu tidak akan bakalan bicara seperti itu dan Mungkin playstation yang aku impi-impikan itu terwujud aku beli tanpa harus minta di belikan sama ayah.sekarang juga pun percuma kalau minta belikan ayah sudah tidak kerja lagi.

Dengan perlahan-lahan kuelus celengan ayam itu.Ada rasa sayang untuk merelakan satu-satunya benda yang kumiliki itu.Karena celengan saya isi dengan hasil susah payah dan jerih payah.
Celengan yang kumiliki sejak kelas V sekolah dasar.

Setiap hari aku mengisinya dengan uang saku ku irit-irit yang di berikan ayah dan hasil uang kerja saya setiap pulang sekolah dengan menjadi pekerja di pembuatan batu bata merah.Sedikit demi sedikit.Hingga akhirnya seberat ini.Haruskah kubuka celengan itu untuk ku berikan kepada ibu?

Sekelebat wajah ibu membayang di pikiranku.Aku kasian padanya. Sejak ayah tak bekerja.Ibu terlihat semakin bertambah tua dan ayah pun sama semakin tua dan mungkin karena beban berat yang di tanggungnya.kubulatkan niatku untuk merelekan celengan ayam itu.
Untuk terakhir kalinya kuelus celengan itu.selamat tinggal playstation. Perlahanku angkat celengan itu dan ku banting ke lantai.Pyarrrr. . . . .celengan itu pecah dan berkeping-keping.

Uang logam dan lembaran uang kertas beserakan di lantai.ku pungut satu per satu untuk ku hitung. Setelah ku hitung uang yang aku aku kumpulkan itu cukup untuk membeli 2 ekor kambing dan uang pun saya kasihkan kepada ibu …

Lalu aku bergegas memberikannya kepada ibu.
“Mi ,iye artosna mahi saker meli pipiaran mah!”
“Nya Den, Hampura nya Emi nya,artos tabungan na di peserkeun pipiaraan!”
“Nya teu nanaon!”

Walaupun dalam hati kecil saya sedih,Playstation yang sudah lama aku idam-idamkan harus gagal aku beli.Mungkin ini adalah jalan yang terbaik buat keluargaku kedepan.

Penulis adalah Mahasiswa Politeknik Meta Industri Cikarang

Leave A Comment