pabrik 2

Hiruk- Pikuk Pekerja Pabrik Lulusan SMA/SMK Sederajat

Oleh : Wenti Sukmani

Berderet peraturan perusahaan besar dalam penerimaan karyawan level SMA/SMK, menampar keras pandangan para pekerja. Kini mereka dibatasi, mulai dari adanya batas usia maksimum melamar menjadi pekerja, tinggi badan, dan juga domisili tempat tinggal.

Usia produktif mereka seakan menyusut, hanya dari 18 tahun sampai dengan 22 tahun, tinggi badan mereka dibatasi dengan minimun 155 cm, terlebih domisili atau ras yang terkadang juga dipertimbangkan dalam rekrutmen karyawan.

Segaris permasalahan muncul diantara kehidupan para pekerja pabrik yang hanya mengantongi ijazah SMA/SMK/Sederajat, mereka menjalani rutinitas sehari-hari didalam tempat kerja dengan kekhawatiran. Mereka tidak bisa terlena dengan kondisi sekarang, kondisi dimana masih ada tempat untuk bekerja, masih bisa menerima gaji rutin setiap bulan

Sistem kontrak dan sistem outsourching, membayangi pikiran mereka, tidak ada kesempatan jangka panjang untuk tetap bisa bekerja dalam sebuah perusahaan walau hanya sebatas menjadi operator lapangan. Rentang waktu mereka bekerja dalam satu perusahaan hanya diperbolehkan selama maksimal 2 tahun.

Tidak ada kesempatan bagi mereka untuk menjadi karyawan tetap, karena posisinya dianggap mudah digantikan. Terlebih bagi mereka yang berada di bawah naungan yayasan atau outsourching, posisi aman dalam suatu suatu perusahaan, hampir tidak ada sama sekali, karena mereka tidak ada perjanjian langsung dengan pihak perusahaan tempat mereka bekerja.

Setelah masa kontrak kerja habis, mereka dipaksa untuk kembali berbaju putih dan celana hitam, memeluk erat amplop coklat dan berlari kesana kemari untuk mendapatkan pekerjaan yang baru. Hingga usia sudah sampai di angka 22 tahun, maka semuanya terasa kosong, tidak mudah lagi untuk mendapatkan pekerjaan, mereka tergeser oleh adik-adik kelas dari SMA/SMK yang baru saja lulus dari sekolahnya. Generasi baru selalu hadir setiap tahunnya, artinya setiap tahun pula, akan selalu menimbulkan pahit bagi mereka yang dianggap sudah tidak memenuhi syarat masuk perusahaan.

Kota industri tidak hanya ramai oleh para pencari kerja, tapi juga para calo atau makelar kerja. Calo menawarkan kesempatan bekerja dengan imbalan uang jasa, bukan dengan jumlah uang yang kecil untuk membeli jasa para calo.

Hitungan 1 Juta sampai dengan 5 Juta, mereka pasang tarif sesuai dengan perusahaan yang ditawarkan, semakin besar perusahaan tersebut, maka calo akan meminta tarif lebih mahal kepada para calon pekerja. Bisa dibayangkan, belum mendapat gaji saja, sudah harus merogoh kocek untuk membayar calo. Cari uang tapi pakai uang, itulah istilah yang ramai dibicarakan.

Para pekerja dan calon pekerja datang dari berbagai daerah, mereka jauh meninggalkan rumah, orang tua dan keluarga. Menggantungkan cita-cita hanya bermodalkan selembar ijazah, mereka genggam harapan dengan kerja keras. Tanpa mengeluh untuk tinggal dalam rumah sewa berpetak, berbagi dengan teman, menghabiskan sebagian besar waktunya di pabrik, bekerja dari petang hingga petang.

Bukan semata untuk kesenangan diri sendiri, mereka lakukan ini juga untuk orang tua dan keluarga. Hasil kerja keras setiap bulan, tidak mereka habiskan untuk kesenangan pribadi, mereka berbagi untuk meringankan beban orang tua dan keluarga di kampung halaman.

Jika mungkin tidak ada kesempatan untuk selamanya bisa berbagi, tapi setidaknya mereka telah memanfaatkan waktu yang dimiliki untuk berbagi kebaikan, untuk mengusahakan yang terbaik. Mencari penghasilan mungkin saja tidak selalu dengan cara bekerja di sebuah perusahaan, apapun jalannya semoga ada titik cerah untuk mereka yang benar-benar ingin berjuang.

Penulis Adalah Mahasiswa Politeknik Meta Industri Cikarang

Leave A Comment