Kertas ku Sayang, Pohon ku Malang

sumber foto:apakabardunia.com

Oleh: :Lilis Rosmainar Tambunan

Kertas, bagi banyak perusahaan merupakan kebutuhan primer. Sama halnya dengan beras, kertas dikonsumsi sehari-hari untuk berbagai keperluan perkantoran. Semua lini organisasi atau divisi tidak bisa lepas dengan benda satu ini. Kertas digunakan untuk surat-menyurat, administrasi, pelaporan, pembuatan proposal, fotokopi dan lainnya.

Sayangnya, harga kertas dari waktu ke waktu semakin mahal. Kertas kian mahal karena ongkos produksi terus meningkat akibat naiknya harga bahan baku dan BBM. Upaya untuk mengurangi konsumsi kertas sebenarnya telah dilakukan oleh banyak perusahaan. Kemajuan teknologi dan internet pun mendukung terciptanya paperless. Proposal dan laporan sekarang tidak perlu dicetak. Tinggal kirim e-mail, klien langsung mendapatkan berkasnya.

Walaupun ada usaha dari berbagai perusahaan Indonesia untuk mengurangi pemakaian kertas yang tidak diperlukan, masih lebih banyak perusahaan yang konsumsi kertasnya meningkat dibandingkan yang menurun. Penggunaan kertas untuk kebutuhan kantor di negeri ini tumbuh pada 40% perusahaan yang disurvei, dengan rata-rata penggunaan 300 lembar kertas per bulan untuk setiap karyawan.

“Dengan pertumbuhan teknologi komputer dan kepedulian terhadap lingkungan tidak menurunkan penggunaan kertas di sektor bisnis. Lebih dari 50% perusahaan belum mempunyai peraturan perusahaan untuk mengurangi penggunaan kertas,

Gedung perkantoran, sekolah, dan juga universitas menghasilkan banyak sampah kertas sampah dalam sehari. Sampah-sampah tersebut tidak lain berupa kertas, kertas tisu, kertas karton, atau kertas karbon yang umumnya digunakan untuk membuat makalah, proposal, nota, revisi tugas, atau hanya untuk mengusap keringat dan kotoran.

Padahal, 20,5% total sampah warga Jakarta adalah sampah kertas yang bahan baku pembuatnya diperoleh dari penggundulan hutanyang merupakan penyumbang terbesar emisi nasional. Jika berandai-andai kalau satu orang saja menghabiskansekitar 20 lembar kertas per harinya, maka dalam waktu sebulan ia akan menghabiskan 600 lembar kertas, dan 7200 lembar atau 14,4 rim kertas dalam kurun waktu setahun. Faktanya, untuk menghasilkan 14,4 rim kertas, dibutuhkan satu pohon sebagai sumber bahan bakunya.

Berdasarkan perhitungan tersebut, satu orang harus menanam satu pohon baru untuk menggantikan satu pohon lain yang sudah ditebang sebagai sumber bahan baku pembuatan kertas yang sudah ia konsumsi selama setahun.

Sekadar tambahan, satu batang pohon kayu keras dengan diameter 15–16 cm dan tinggi 12 meter dapat menghasilkan 1,2 kilogramgas Oksigen per hari. Jika satu orang membutuhkan 0,5 kilogramgas Oksigen per hari berarti menebang satu pohon akan menghilangkan sumber gas Oksigen untuk dua orang.

Pernah menonton film Gravity dan merasakan ketegangan ketika tabung gas Oksigen milik Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) segera menipis sedangkan ia berada sendirian di luar angkasa? Mungkin manusia akan merasakan hal tersebut ketika ribuan hektar hutan di dunia terus ditebang atas alasan yang tidak bisa diterima akal; untuk keperluan bahan baku produksi kertas, alih fungsi lahan, dan lain-lain. Bayangkan ketika angka produksi meningkat drastis sementara planet ini kehabisan gas Oksigen, kira-kira siapa yang akan menjadi konsumennya?

Persentase Divisi yang Paling Banyak Menggunakan Kertas

Hasil survei yang dilakukan Spire Research terhadap 100 perusahaan Indonesia di bulan Maret 2008 menyebutkan bahwa 40% dari perusahaan yang disurvei memberikan indikasi atas peningkatan konsumsi kertas dalam dua tahun terakhir. Hanya 20% yang menyebutkan penurunan konsumsi kertas di kantor, sedangkan 40% lainnya menyebutkan tidak terjadi perubahan konsumsi kertas yang signifikan.

Mayoritas (53,3%) perusahaan di sektor finansial, asuransi, real estate adalah perusahaan di mana konsumsi kertas meningkat dalam dua tahun terakhir. Tren serupa juga terlihat dari sektor ini di negara Asia Pasifik lainnya. Sebanyak 51,5% dari perusahaan yang tersurvei di sektor penyedia layanan jasa lainnya—seperti logistik, distribusi, kesehatan, software, advertising dan media—serta 38,5% dari total di sektor perdagangan dan ritel juga memberikan tren yang sama.

Divisi marketing terlihat sebagai pengguna terbesar, seperti yang diindikasikan (24%). Divisi finance adalah departemen berikutnya dengan penggunaan terbesar (11%), diikuti oleh divisi administrasi (9%).

Dari beragam keperluan penggunaan kertas, mencetak laporan adalah pemakaian yang terbesar (36%) dan juga fotokopi, pembuatan proposal, mencetak sketsa, dan menyiapkan dokumen tender (masing-masing 5%).

Kualitas dan harga adalah dua hal yang menjadi kriteria utama dalam memilih kertas. Kurang dari 4% dari perusahaan Indonesia yang menggunakan kertas PBSM (Produced by Sustainable Method) dikarenakan tingginya harga kertas tersebut.

Demi menyadarkan masyarakat tentang pentingnya penghematan penggunaan kertas untuk menjaga keberadaan gas Oksigen di muka bumi, Earth Hour Indonesia kembali menyelenggarakan kegiatan Car Free Day (CFD) yang ketiga dalam rangka kampanye Earth Hour Indonesia 2014. Tema kegiatan Car Free Day yang ketiga kali ini adalah #BijakKertas. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan kertas dan bisabelajar untuk mendaur ulang sampah kertas.

Peningkatan penggunaan media online tidak menghambat perkembangan industri pulp dan kertas tanah air. Selain jumlah konsumsi tanah air yang masih rendah, permintaan masyarakat dunia akan kertas masih tinggi. Hal tersebut menyebabkan potensi industri pulp dan kertas di tanah air masih sangat besar.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar mengatakan, pada tahun 2013 Indonesia memiliki 82 industri pulp dan kertas yang terdiri atas 4 industri pulp, 73 industri kertas, serta 5 industri pulp kertas terintegrasi dengan kapasitas terpasang industri pulp dan kertas sebesar 18,96 juta ton.

Realisasi produksi pulp dan kertas masing-masing 4,55 juta ton dan 7,98 juta ton kertas. Dengan kemampuan produksi tersebut Indonesia menempati peringkat ke-9 untuk produsen pulp terbesar di dunia dan ke-6 untuk produsen kertas terbesar di dunia.Dari sisi ekspor, Indonesia mampu mengekspor pulp sebesar 3,75 juta ton dengan nilai 1,85 miliar dolar AS dan mengekspor kertas sebesar 4,26 juta ton dengan nilai 3,76 miliar dolar AS. Adapun negara tujuan ekspor terbesar adalah Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Tiongkok.

Saat ini konsumsi kertas di dunia se-banyak 394 juta ton dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada 2020. Sementara di dalam negeri konsumsi kertas per kapita masih sangat jauh dari rata-rata konsumsi negara lainnya sehingga masih sangat potensial untuk berkembang.

“Walaupun ada peningkatan penggunaan media online, pada kenyataannya tidak akan menghambat perkembangan industri pulp dan kertas karena penduduk dunia diproyeksikan menjadi 9 miliar orang pada tahun 2050 dan hampir 60%-70% berada di Asia yang diprediksi masih menggunakan kertas untuk berbagai keperluan.

Penulis Adalah Dosen Politeknik Meta Industri Cikarang

Daftar Pustaka

Ananias Lopes Pemanfaatan Jerami Padi (oryza sativa) Menjadi kertas seni (art paper ) dan produk kerajinan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Dwi Putri Prasetyawati Pemanfaatan Kulit Jagung Dan Tongkol Jagung (Zea Mays) Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Kertas Seni Dengan Penambahan Natrium Hidroksida (Naoh) Dan Pewarna Alami Universitas Muhammadiah Surakarta

Iryanti Fatyasari Nata, Helda Niawatidan Choir Muizliana Pemanfaatan serat selulosa Eceng gondok (eichhornia crassipes) sebagai bahan baku Pembuatan kertas: isolasi dan karakterisasi Universitas Lambung Mangkurat

Khaswar Syamsu, Liesbetini Haditjaroko, Gamma Irca Pradikta Han Roliadi Campuran Pulp Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Selulosa Mikrobial Nata de Cassava dalam Pembuatan Kertas

Purnawan, Cyrilla Indri Parwati Pembuatan Pulp Dari Serat Aren (Arenga Pinnata)Dengan Proses Nitrat Soda AKPRIN Yogyakarta

Mochammad Hadi Pembuatan Kertas Anti Rayap Ramah Lingkungan dengan Memanfaatkan Ekstrak Daun Kirinyuh (Eupatorium odoratum) Fakultas Mipa Undip