gambar buku

3 M Tidak Mengubah Keadaan Menjadi Lebih Baik

Oleh Muhammad Ammar

Mengkritik, mencerca dan mengeluh (3M) adalah hal yang wajar di era zaman sekarang untuk menyelesaikan sebuah masalah bahkan untuk sedikit melegakan perasaan. Ya, masalah memang selalu ada dalam kehidupan kita, namun apakah mengkritik, mencerca ataupun mengeluh adalah solusi sebenarnya?, dan apakah benar 3 hal yang menjadi kebiasaan itu melegakan perasaan kita seutuhnya?, dan apakah benar 3 hal itu benar-benar menyelesaikan masalah? Atau mungkin kah hanya menimbulkan masalah baru dan menambah lama penyelesaiannya?.

Mari kita bahas padangan menyelesaikan masalah dalam sebuah buku yang sudah hidup puluhan tahun, di terbitkan awal pada tahun 1937 dengan judul “ Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain”. Di dalam buku tersebut banyak di ceritakan mengenai kisah-kisah orang terdahulu mulai dari cara dan pandangan mereka mengenai masalah, dampak dari penyelesaian masalah yang mereka ambil, sampai membahas bagaimana mengerti dan bisa bergaul baik dengan manusia dan bagaimana memikat orang lain dengan cara berpikir anda.

Dalam buku tersebut di kisahkan beberapa kisah menarik yang membuat saya hampir tidak percaya dengan manfaat dari buku ini. Dalam sebuah cerita dikisahkah bahwa salah satu peserta training sosialisasi buku ini adalah seorang pemilik perusahaan dengan jumlah karyawan 314 orang.

Selama bertahun-tahun beliau sudah menggerakan perusahaannya ,mengkritik, mencaci para pegawainya tanpa kebijakan, mereka yang bekerja pada perusahaan itu seolah di hantui luapan fikiran negative bos nya. Penghargaan, pujian , motivasi , serta apresiasiasi untuk pegawainya adalah hal yang aneh untuk bibirnya. Namun, setelah mengikuti pelajaran dalam prinsip-prinsip yang di bahas dalam buku ini pengusaha ini mengubah filosofi hidupnya.

Organisasi perusahaannya kini diilhami dengan satu kesetiaan baru, antusiasme baru, semangat baru dari tim kerjanya. Dan anehnya Penghargaan, pujian , motivasi , serta apresiasiasi untuk pegawainya adalah hal yang paling sering dia tunggu-tunggu untuk di lakukan. Buah dari perubahan filosofi hidupnya ini membuahkan hasil yaitu 314 musuh telah berubah menjadi kawan. Yang awalnya semua pegawai seolah menghindar atas luapan emosi bos nya kini menanti kata-kata motivasi dari bos mereka.

Bahkan ada kisah unik yaitu pesuruh kantor di perusahaan pengusaha itu bekerja kini memanggilnya dengan nama kecilnya. Dan pencapaian terbesarnya adalah pengusaha ini memperoleh laba lebih besar, lebih banyak waktu senggang dan apa yang jelas lebih penting dia menemukan lebih banyak kebahagiaan dalam bisnis maupun di rumah tangganya.

Saya tertegur dengan penyelesaian masalah tercepat yang sering di ambil dan digunakan banyak orang “ luapkan saja apa yang di rasakan maka masalah selesai “. Begitulah sebenarnya makna dari mengkritik, mencerca dan mengeluh , tapi ada cara lain yang lebih elegan dan malah merubah semua pandangan menjadi lebih pengertian dan penuh kasih, seperti yang di lakukan oleh pemilik perusahaan itu pada karyawannya.

Dia merelakan mengubah dirinya menjadi lebih baik sebelum dia mengubah orang lain. Dan seberapa hebat kah ilmu dari training tersebut, metode pendidikan apa yang di terapkan ?, sebenarnya seorang filsuf inggris dan seorang pemikir teori liberal klasik terkemuka bernama Herbert Spencer telah menjelaskan kehebatan sebuah teori ilmu dalam sebuah kata-kata bijak dia berkata “ tujuan besar pendidikan bukanlah pengetahuan melainkan tindakan.

Ya benar pengusaha itu sudah menerapkan ilmu dari teori pendidikan yang dia dapat, bukan hanya sekedar menjadi pendengar setia peserta training tanpa ada tindakan. Dalam sebuah cerita di buku ini juga di kisahkan, sebuah kisah seorang ayah dengan judul “ ayah juga lupa “ di dalam cerita ini dikisahkan bahwa seorang ayah yang mendidik anaknya dengan keras , anak laki-laki yang harusnya di perlakukan dengan penuh kasih malah didik untuk menjadi lelaki sejati sedini mungkin , bahkan hal yang sepeleh membuat ayah anak itu mencerca dan memakinya.

Sebagai contoh kecil ayah anak itu membentak anaknya yang sedang berpakaian karena anaknya hendak pergi kesekolah namun cuma menyeka mukannya sekilas dengan handuk , bahkan ketika anaknya tidak membersihkan sepatunya ayah anak tersebut malah memakinya.

Yang lebih parah pada suatu kesempatan ayah anak tersebut muncul dari jalan dan mengamati anak itu sedang bermain kelereng, ayah anak tersebut mengamati dengan sangat cermat dan mendapati ada lubang-lubang pada kaus kakimu, ayah anak tersebut menghina anaknya di depan kawan-kawannya lalu menggiring anaknya untuk pulang ke rumah sembari tetap menghadiknya dengan berkata “ kaus kaki mahal dan kalau kau harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati”, bahkan tak jarang anaknya harus mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan karena sekedar ingin di temani bermain dengan ayahnya yang sedang sibuk membaca Koran.

Seolah perlakuan itu adalah hadiah yang layak dia berikan untuk anaknya sebagai seorang ayah, ia tidak sadar saat anaknya begitu rapuh, pemurung dan tidak bersemangat maka ia melihat lagi pandangannya dan perilakunya mengenai apa yang dia lakukan ini adalah salah, maka ia tersadar bahwa dia berharap terlalu banyak dari masa muda, sampai dia tidak sadar bahwa dia telah membayangkan dan memposisikan anaknya sebagai seorang lelaki dan meminta terlalu banyak .

Dari kisah itu kita dapat mengambil pelajaran bahwa sebagai ganti dari mencerca orang, mari kita coba untuk mengerti mereka. Mari kita berusaha mengerti mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Hal itu jauh lebih bermanfaat dan menarik minat dari pada kritik, dan mari kita melahirkan simpati, toleransi dan kebaikan hati. “ untuk benar-benar mengenal semua, kita harus memanfaatkan semua. “ seperti yang dikatakan Dr. Johnson : “ Tuhan sendiri tidak menghakimi orang hingga tiba pada akhir hari-harinya. “ mengapa saya dan anda harus melakukannya?.

Penulisa Adalah Mahasiswa STMIK MIC Cikarang

Leave A Comment