kids zaman now

Kids Zaman Now, Generasiku Sayang

Sumber gambar Nyunyu.com

Oleh : Zayn

Hari ini aku memulai rutinitas seperti biasanya, termasuk untuk mengecek media sosial, muncullah banyak berita disana, aku scroll kebawah, kebawah, lalu kembali keatas lagi, hingga terdapat berita yang membuat jari ku berhenti mengusap layar si mesin persegi panjang. Berita itu membuat saya merasa miris setelah membukanya.

Dengan judul “Seorang guru yang tewas dianiaya muridnya” astaghfirullahaladziim, sangatlah miris. Bagaimana tidak, bahwa kita ingat yang menjadi tersangka dalam tewasnya sang guru adalah siswa nya sendiri, usianya yang masihlah muda, dan ia adalah generasi bangsa ini.

Melihat hal itu, mengingatkan saya dengan fenomena yang menjadi trend dimedia sosial saat ini, yaitu kids jaman now. Kids jaman now bagi saya tidak hanya gaya pacaran mereka yang menantangnya luar biasa, tetapi ini menyangkut moral generasi bangsa.

Ya, tidak hanya pada kasus kekerasan yang menimpa guru mereka yang menjadi salah satu tanda meningkatnya kenakalan remaja, kekerasan seksualpun sudah mulai perlahan merangkul generasi kita. Sebagai contoh, berita yang belum lama beredar juga. Kasus predator anak di tanggerang, WS alias Babeh yang melakukan kekerasan seksual terhadap 41 anak. Kemudian di Cianjur, terdapat pesta Gay yang melibatkan anak dibawah umur didalamnya.

Remaja adalah generasi yang mempuyai banyak harapan pada masa depan, karakter yang menonjol pada usia ini adalah dapat menerima perubahan, dan diikuti dengan kontrol diri yang masih labil atau mudah emotional yang menjadi kelemahanya. Dengan keadaan yang seperti ini generasi kita membutuhkan sosok figur yang dapat dicontoh.

Mundur nya moral generasi muda tidak membuat kita lantas mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, namun tidak juga membiarkan. Bagaimana jika kita menengok lagi kebelakang, bagaimana moral dan perilaku kita sebagai orang – orang terdekat anak dan lingkungannya. Pola asuh yang mungkin harus di review kembali, apa yang membuat moral anak menurun?

Sudahkah kita sebagai orang tua memberikan perhatian yang cukup untuk mereka ? apakah sebagai orang tua kita sudah bisa menjadi pendengar yang baik untuk anak ? atau ada pula orang tua yang merasa “ohh, saya sudah memberikan fasilitas yang dibutuhkan anak saya, jadi tenang saja”.

Ya, fasilitas untuk anak memang diperlukan, tapi akan berbeda manfaatnya jika tanpa pengarahan bu, pak. Perhatian dan kasih sayang adalah bentuk rasa cinta yang diterima anak, yang akan membuat mereka merasa dilindungi, merasa ada. Namun akan berbeda jika anak mendapatkan perhatian yang kurang dari orang tua atau keluarga nya, kemungkinan besar si anak akan mencari hal itu pada tempat yang lain.

Sebagai contoh saat merasa nyaman dengan teman – temannya, teman – temannya dianggap lebih bisa mendengarkan keluh kesahnya, karena saat itu orang tua lengah, ternyata lingkungan pertemanan si anak menyimpang, dan berimbas pada perilakunya, seperti merokok, minum – minuman keras, mengakses situs porno, tawuran hingga menjadi korban pelampiasan birahi. Untuk kasus kekerasan dan penyimpangan seksual, apakah kita sebagai orang tua sudah memberikan pendidikan seks yang tepat untuk anak?

Pada usia emas anak akan mudah menerima informasi, dan mudah meniru. Pengetahuan seks yang keliru yang diperoleh anak, akan menimbulkan persepsi yang keliru tentang alat kelamin, proses reproduksi, dan seksualitas. Hal ini dapat berdampak pada penyimpangan perlakuan seksual (Sciaraffa & Randolph : 2001,1).

Gerakan pendidikan moral dan pendidikan seksual yang efektif disekolah – sekolah juga bisa menjadi salah satu solusi. Pendidikan seksual yang dilakukan oleh orang – orang terpercaya baik disekolah atau yang dilakukan oleh orang tua tidak diberikan secara vulgar, melainkan secara kontekstual.

Pada kasus – kasus yang sudah kita bahas diatas, menyangkut anak bahwa banyaknya laporan ditahun 2018 semakin meningkat, bisa dikatakan Indonesia sudah memasuki kondisi “Darurat”. Saya sangat ingat kutipan dari salah satu buku yaitu, “Kita memang tidak bisa merubah Dunia, tapi kita bisa menjadi bagian dari perubahan itu”.

Semoga dengan banyaknya kasus yang meningkat untuk kekerasan, pelecehan, dan kenakalan pada anak ini bisa kita jadikan teguran, untuk semakin dekat dengan mereka,memberikan waktu yang efektif untuk mereka, memberikan pendidikan yang tepat untuk mereka, khususnya pendidikan agama yang menyangkut akhlak.

Dan berharap Indonesia akan lebih tegas lagi untuk menangani mereka – mereka yang menjadikan anak – anak sebagai korban kekerasan atau pelampiasan birahinya. Gernerasi muda kita saat ini adalah cerminan bangsa kita dimasa depan. Lalu bagaimana jika Kids jaman now ini dibiarkan ? pasti pembaca sudah bisa menerawang jawabannya.

Penulis adalah Mahasiswa Politeknik Meta Industri Cikarang

Leave A Comment